Ayah, aku rindu main dengan mu

William adalah Manager di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Jhon, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur?” sapa William sambil mencium anaknya.
Biasanya, Jhon memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Jhon menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”
“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja, Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”
Jhon berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika William beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Jhon berlari mengikutinya.
“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah William.
Tetapi Jhon tak beranjak.
Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Jhon kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”
“Tapi, Ayah…” Kesabaran William habis.
“Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Jhon.
Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, William nampak menyesali hardikannya, Ia pun menengok Jhon di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Jhon didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, William berkata, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Jhon. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”
“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”
“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya William lembut.
“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Jhon polos.
Wiliam terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.

Mahkota orang-orang tua adalah anak cucu dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka.

Kisah di atas adalah kisah nyata yang sekarang kerap terjadi, mungkin pada anda sekarang ini. juga termasuk pada saya. Di saat kecil dulu, sering saya mempertanyakan kenapa Bapak selalu pergi, ketika saya kangen saya ingin agar Bapak bisa menemani saya bermain bersama ibu. Namun setelah sekarang ini saya menjadi orang tua, saya mengerti, bahkan saya juga mengalami betapa sulitnya menjadi orang tua yang bekerja. Kalau boleh memilih, saya ingin sekali mengurusi serta mendampingi pertumbuhan dewi kecil saya yang sedang tumbuh menjadi gadis cantik. Selalu mengetahui perkembangannya, dapat berada di sisinya saat di butuhkan olehnya. Namun, HIDUP ini adalah PILIHAN, jika kita tidak memilih, maka kehidupan yang akan memilih untuk kita. Saya bekerja untuk membantu keuangan keluarga, namun tidak untuk melupakan keluarga. Yah, sesekali bolehlah mengajukan cuti beberapa hari untuk menghabiskan waktu dengan keluarga.

4 responses

  1. Jadi ingat ceritas seorang guru yang menjelaskan urutan memasukkan batu, kerikil, pasir dan terakhir air ke dalam sebuah bejana,

    Intinya, kerjakan hal-hal yang bersifat pokok seperti keluarga yang menyayangi kita baru laksanakan yang remeh-remeh🙂

    Nice posting…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s